SEMANGAT PENGABDIAN KITA: SEBUAH AKSELERASI MENJADI CENDEKIAWAN BERKARAKTER

BELAKANGAN ini kita sering mendengar betapa banyak hujatan terhadap apa-apa saja yang diperlihatkan, dilakukan, dan dikatakan oleh bangsa kita sendiri. Kita mengkritik bangsa sendiri habis-habisan dan melihat bangsa lain dengan kacamata lebih baik. Kita dengan ringan mengarahkan belati tudingan ke dada sendiri. Berseru-seru meneriakkan kekecewaan tanpa tahu bagaimana masalah yang harus dibenahi. Semakin hari semakin terihat banyak dari masyarakat kita telah berkembang menjadi orang yang frustasi sekaligus apatis melihat keadaan. Pertanyaannya kemudian, siapa yang memprotes dan siapa yang diprotes? Kita seperti menyodorkan cermin pada wajah sendiri, menemukan dan menuding kesalahan sendiri, lalu kita semai itu menjadi tumbuhan liar rimbun yang kita sendiri tak tahu bagaimana memangkasnya.
Selain persoalan diatas, ada juga persoalan lain yang perlu kita renungi bersama. Banyak perusahaan besar di Indonesia yang memercayakan posisi-posisi penting pada expatriate, padahal banyak anak bangsa yang berpendidikan baik juga bertebaran lulusan dari luar negeri dan memiliki kualitas ilmu yang sama. Prof. Dr. Suharyadi pernah menanyakan soal ini kepada seorang pengusaha, dan dia menjawab “orang-orang kita banyak yang hebat secara ilmu pengetahuan tapi mereka kurang percaya diri, sehingga tidak bisa mengeksplor kepintaran dalam bentuk yang terpadu. Otak dan performa meyakinkan, sementara para expatriate terbilang luar biasa percaya diri, meyakinkan, dan tegas. Mereka lebih capable diangkat menjadi pimpinan”.
Itulah yang mendorong saya untuk menulis esai ini, saya ingin menggugah semangat kita untuk menjadi pribadi yang berkarakter supaya bangsa kita tahu cara membenahi kekecewaan yang selalu diteriakkan tanpa tahu masalah yang harus dibenahi. Melalui semangat pengabdian yang sebelumnya telah diasah oleh para mahasiswa pada kehidupan kampus dengan berbagai upaya yang nanti saya sebutkan dalam tulisan ini. Harapannya dapat tertanam dalam benak seluruh pembaca khususnya para sivitas akademika Universitas Negeri Semarang.
Siapakah Cendekiawan Berkarakter
            Cendekiawan dimaknai sebagai orang yang memiliki sikap hidup yang terus-menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk dapat mengetahui atau memahami sesuatu. Maka, pada konteks ini kita sebut saja sebagai mahasiswa dan semua tenaga kependidikan serta seluruh keluarga besar UNNES. Karena sejatinya semua manusia adalah seorang cendekiawan, saya mengatakan demikian karena manusia lahir ke dunia untuk beribadah dan terus-menerus belajar hingga akhir hayat. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah hidup seorang diri. Artinya, manusia senantiasa memerlukan kerjasama dengan orang lain, dengan manusia lainnya dalam hidupnya untuk membentuk pengelompokkan sosial diantara para sesama untuk dan dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan. Maka dalam kehidupan bersama, manusia memerlukan adanya organisasi, yaitu suatu jaringan interaksi sosial antar sesama untuk menjamin ketertiban
Sebagai makhluk sosial tadi, dalam berinteraksi, maka ada nilai dan karakter yang selalu melekat bagi itu pada masyarakat sebagai sebuah entitas sosial, maupun manusia sebagai invidu orang peorang sebagai entitas pribadi. Nilai merupakan bentuk dari sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan, sedangkan karakter didefinisikan sebagai tabiat; sifat –sifat kejiwaan; akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak (KBBI 2011). Berkarakter berarti mempunyai tabiat, mempunyai kepribadian. Dengan demikian karakter dapat diartikan sebagai sikap pribadi yang stabil sebagai hasil proses konsolidasi secara progresif dan dinamis, integrasi pernyataan dan tindakan (Khan 2010). Maka, guna membentuk karakter tersebut, paling tidak ada empat pendidikan karakter yang bisa dibaca sebagai sebuah cara membentuk karakter tersebut. Mulai dari pendidikan karakter yang berbasis religious yang merupakan kebenaran wahyu Tuhan (konservasi moral); berbasis nilai budaya, yang merupakan aspek budi pekerti, pancasila, apresiasi sastra, keteladanan tokoh-tokoh sejarah dan para pemimpin bangsa  (konservasi budaya); berbasis lingkungan (konservasi lingkungan); sampai pendidikan karakter yang berbasis potensi diri yang meliputi sikap pribadi, hasil proses kesadaran pemberdayaan potensi diri yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan (konservasi humanis).
Pada konteks kehidupan kampus, sosok cendekiawan berkarakter lebih popular dengan sebutan mahasiswa. Namun pada hakikatnya setiap orang adalah ingin belajar dan memiliki karakter masing-masing yang berbeda. Hanya saja karakter yang diharapkan dari institusi dan bangsa Indonesia adalah cendekiawan yang berkarakter mulia. Apabila digolongkan karakter-karakter manusia tersebut maka tidak akan habis untuk menyebutkan golongan-golongan atau satu persatu pemilik karakter tersebut. Dengan melihat sekian banyak manusia, mustahil kita bisa menggolongkan, menyebutkan, menuliskan atau apapun itu bentuknya. Begitupun dengan berbagai karakter mahasiswa pada umumnya.
Namun, setidaknya ada tiga tipe mahasiswa, pertama adalah mahasiswa yang study oriented, mereka adalah mahasiswa yang mengutamakan kehidupan kelas dan tujuannya adalah satu yaitu IPK selangit lulus tepat waktu. Kedua, adalah mahasiswa yang menjadi aktivis kampus. Beberapa menyatakan bahwa menjadi aktivis kampus adalah keharusan, bukan pilihan. Menjadi aktivis kampus berarti menjadi mahasiswa yang aktif di berbagai atau beberapa organisasi baik intra kampus maupun ekstra kampus dan tidak mengabaikan prestasi akademik. Menjadi aktivis kampus akan memiliki softskill, jaringan dan bargaining position lebih untuk masa depannya. Terakhir, adalah mahasiswa yang berprestasi pada penunjang akademik yaitu mereka yang selalu bergairah dan juara ketika dihadapkan dengan info-info lomba karya tulis ilmiah. Inilah menjadi primadona bagi manusia kampus yang menggeluti bidang keilmiahan. Mereka secara otomatis menyandang gelar sebagai aktivis keilmiahan sekaligus dapat menunjang prestasi akademiknya.
            Maka, mahasiswa berkualitas yang menyandang sebutan cendekiawan berkarakter adalah mahasiswa atau lulusan yang berprestasi dalam bidang akademik sekaligus memiliki softskill yang tidak dimiliki oleh tiap-tiap orang serta diasah dalam peran sertanya di beberapa organisasi intra maupun ekstra kampus. Sesuatu yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki semangat keikhlasan untuk mengabdi dan tekun terhadap segala pekerjaan yang sudah menjadi tanggungjawabnya.
 
Kiprah Cendekiawan Berkarakter dalam Masyarakat
DALAM prinsip dasar kepramukaan, gerakan pramuka memiliki sistem pendidikan yang biasa dijadikan sebagai pegangan dalam tiap kegiatan. Prinsip tersebut biasa disebut sistem among yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Nasional yakni Ki Hajar Dewantar. Inilah yang menjadi semangat para cendekiawan berkarakter yang memiliki sifat rendah hati serta mampu menyesuaikan diri di segala tempat dan dimanapun ia diposisikan dalam suatu kelompok masyarakat.
            Sesungguhnya manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin di bumi ini, mulai dari menjadi pemimpin diri sendiri, keluarga, maupun kelompok masyarakat tempat ia tinggal. Sebagai seorang yang memiliki kemampuan kecerdasaan intelektual, terampil dalam berorganisasi serta problem solving, maka tak heran jika banyak dari mereka yang dipercaya menjadi orang terdepan sekaligus dituakan serta menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya. Didepan menjadi teladan merupakan prinsip pertama yang biasa disebut ing ngarso sung tulodo.
            Selain menjadi figure seorang pemimpin suatu kelompok di masyarakat atau instansi tertentu baik negeri maupun swasta, sebagian dari mereka banyak yang mengabdikan dirinya dengan sepenuh hati sebagai karyawan, pendidik, praktisi, dan profesi-profesi dengan lainnya. Mereka melakukan pekerjaan itu dengan giatdan tekun supaya mencapai titik maksimal demi menjaga kepercayaan yang telah diamanahkan kepadanya. Bagi mahasiswa yang berkecimpung pada beberapa organisasi baik itu intra kampus maupun ekstra kampus, mereka akan memberikan sumbangsihnya baik mulai dari yang berupa pikiran, tenaga, harta, serta apapun yang mampu ia lakukan untuk organisasi yang ia ikuti. Hal itu dilakukan karena sense of belonging telah menjalar sampai ke seluruh jiwa. Sebagai figure yang diakui keberadaannya dan dianggap penting oleh kelompok, ia akan membangun semangat saudara-saudaranya untuk mencapai tujuan bersama yang telah disepakati dan menjadi idealisme kelompok tersebut. Dalam arti ia menjadi seseorang yang kehadirannya selalu dinantikan oleh orang lain meskipun ia bukan pemimpin mereka dalam kelompok tersebut. Ditengah-tengah mampu membangun semangat disebut dengan istilah ing madyo mangun karso. Figur seperti itulah yang sekarang dirindukan oleh masyarakat khususnya dikalangan mahasiswa dan para pendidik di UNNES.
            Kemudian, tidak kalah popularnya bahwa seseorang yang cerdas dan berkarakter akan menjadi tokoh yang disegani oleh kelompoknya meskipun ia sudah pensiun dari kelompok yang ia anggap sebagai keluarga keduanya. Namun, hal itu tidak menutup kemungkinan apabila ia sedikit dilupakan oleh orang-orang di kelompok tersebut karena kesibukan persiapan segudang kegiatan yang diselenggarakan oleh kelompok tersebut. Ia mengabdikan dirinya dengan menularkan energy-energi positif kepada sebagian dari anggota kelompok tersebut, hal itu dapat terjadi karena sense of belonging sangat kental. Bahkan tidak jarang ia menjadi konseptor yang hanya nampak di balik layar, inilah kemudian yang dinamakan figure yang di belakang selalu memberi dorongan atau disebut tut wuri handayani.
 
Akar Semangat Pengabdian 
“KEMISKINAN di masa kecil menjadi pelajaran yang hidup yang memberikan banyak nilai yang masih terpatri hingga kini”. Itulah yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Suharyadi dalam buku yang berjudul Prof. Dr. Suharyadi Mendidik dengan Hati berisi tentang perjalanan hidupnya dari kecil hingga kesuksesannya di dunia pendidikan dan rumah tangga serta mengajarkan kita untuk mengembangkan diri dengan menyerap pendidikan dari kehidupan yang ditulis oleh Alberthiene Endah (Albertheine Endah 2012).
Perjalanan hidup seseorang pasti berbeda-beda, dengan demikian mereka dapat menyerap nilai-nilai dari kehidupan oleh alam melalui scenario yang berbeda pula. Hal itu terjadi karena Tuhan menciptakan makhluknya dengan karakter yang berbeda-beda pula agar manusia dapat saling mengenal, saling memahami, saling tolong-menolong, serta saling menanggung beban saudaranya. Akan ada titik dimana Tuhan menguji manusia dengan ujian kehidupan yang pahit dan manis. Diharapkan kita sebagai insan memiliki kepekaan bathin untuk menyerap atau mengambil pelajaran yang disemburkan oleh kehidupan secara alamiah.
Seperti pengalaman hidup miskin pak Suharyadi yang dijalani dengan hidup serba prihatin sejak ia sekolah dasar sampai mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi. Akan tetapi ia memiliki energi dahsyat yang terus tumbuh, mengakar, bercabang yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya sejak ia kecil dengan cara memberi petuah – petuah untuk tetap tegar dan kuat menjalani kehidupan hingga pada akhirnya mengantarkan ia pada kesuksesan di masa tua. Orangtuanya mengerti bahwa pelajaran sekolah adalah harga mati bagi pembentukan kecerdasan, oleh karenanya ia berikan dalam disiplin yang sangat keras. Sementara pelajaran tentang hakekat hidup adalah sesuatu yang harus ditiupkan dan diresapi dengan hati yang sejuk, sehingga ia memakai cara berdongeng dan wejangan. Dari pengalaman hidupnya yang begitu panjang, ia bertekad menjadi pendidik dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk instansi serta anak-anak didik yang dididiknya dengan sepenuh hati. Akar spiritnya ada pada pengalaman hidup dan kebulatan tekad.
            Akar spirit pengabdian yang selanjutnya adalah sense of belonging terhadap sesuatu yang sedang dikerjakan. Sense of belonging dapat terbentuk kental dengan ikut merasakan atau berperan dalam perjalanan panjang perjuangan sebuah kelompok menuju sebuah atau beberapa tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal apapun, apabila dalam setiap momentum sering ikut serta atau dalam setiap tindakan sering membersamai maka akan tumbuh kental sense of belonging tersebut beserta kenyamanan yang mengantarkan pada loyalitas. Dari sense of belonging tersebut maka dapat ditemukan sebuah idealisme yang bergulung-gulung, kemudian muncul sebuah panggilan bergerak yang tidak bisa dibendung lagi. Jika sudah meresap ke dalam hati, akan menjadi sebuah dorongan yang dahsyat untuk benar-benar mengerahkan segala kemampuan guna mendapatkan hasil terbaik seperti yang dikehendaki.
            Selain dua hal tersebut di atas, tugas yang diamanahkan pada seseorang dapat menjadi akar sebuah pengabdian untuk menunaikan berbagai kewajiban dengan sebaik-baiknya. Tujuannya tidak lain ialah untuk memberikan pertanggung jawaban kepada manusia dan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pribadi yang cerdas dan berkarakter tentu memiliki sikap sadar akan kewajiban seperti demikian yang saya sebutkan diatas. Semoga kita senantiasa menjadi pribadi unggul yang sadar akan kewajiban kemudian memenuhinya sebelum menuntuk hak-hak yang selayaknya kita dapatkan.
 
Fase Pemberian, Pencarian, dan Penerimaan       
SEBELUM berbicara lebih lanjut megenai ketiga fase ini, izinkan saya untuk menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan fase-fase ke depan yang saya jadikan sebagi sebuah proses yakni proses mendidik dengan hati. Pendidikan bukanlah semata produk yang diberikan oleh institusi pendidikan, akan tetapi bagaimana seseorang bisa menyerap nilai hidup sebanyak-banyaknya dari apa yang ia dengar, ia amati, ia baca, dan ia rasakan. Pada negara-negara maju, sekolah-sekolah memberlakukan asas kebebasan berpendapat. Para pendidik setiap hari bersiap mendengarkan sesuatu yang otentik dari murid-muridnya. Mereka menyampaikan ilmu pengetahuan, mengajarkan kedisiplinan tanpa menggerus nilai-nilai karakter dari setiap murid. Menyarikan nilai-nilai kehidupan, dan mengimplementasikan itu dalam kesempatan mengajar setiap hari, karena mereka sadar bahwa ilmu pengetahuan harus diiringi dengan landasan mental yang baik.
Dengan demikian telah jelas bahwa yang dikerahkan oleh pendidik bukan hanya kemampuan transfer ilmu pengetahuan saja, akan tetapi nilai-nilai yang diserap dari kehidupan secara alamiah disisi ilmu pengetahuan. Mari para pendidik dan pengelola institusi pendidikan kita menghayati tekad utuk sebanyak-banyaknya menyuntikkan motivasi dan energi positif pada diri anak-anak didiknya. Lalu, apakah kita sebagai mahasiswa atau murid yang dididik sudah mengetahui apa yang seharusnya kita serap dari pendidikan?
Jika fase pemberian lebih tepat diperuntukkan kepada tenaga pendidik, maka inilah proses yang paling tepat untuk para murid yang dididik yaitu fase pencarian dan penerimaan. Mengapa saya buat kompleks terhadap hal ini untuk para murid atau yang lebih popular dengan sebutan mahasiswa? Karena apabila hanya satu proses saja, misalnya hanya fase menerima saja maka serta merta peserta didik akan duduk santai menerima ilmu pengetahuan tanpa inisiatif untuk menambah wawasan yang bersifat akademik ataupun diluar itu. Kemudian, apabila hanya proses pencarian saja maka peserta didik tentu tidak melewati proses penerimaan yang diharapkan layaknya proses belajar ilmu pengetahuan pada umumnya serta berbagai kemungkinan lain yang mungkin belum saya sebutkan disini. Dengan demikian, jelas bahwa terdapat dua proses yang sebaiknya dilalui dan digali oleh peserta didik yakni proses pencarian dan penerimaan.
Dalam proses pencarian terdapat beberapa hal yang harus mereka cari, yaitu mencari sebanyak – banyaknya pengalaman, mencari nilai-nilai atau pelajaran yang disampaikan oleh kehidupan, serta ilmu pengetahuan yang akan membentuk kecerdasan intelektual. Tidak hany berdiam diri dan berpangku dagu dengan seribu gumpala kemalasan akan tetapi bergerak menyiapkan asset untuk bekal masa depan yaitu berupa pengalaman hidup dan ilmu pengetahuan. Seperti yang telah saya sampaikan di belakang bahwa pada hakikatnya setiap orang telah diberi skenario oleh Tuhan yang Maha Esa, namun berjuanglah untuk menjadi orang baik yang di ridhoi oleh-Nya. Proses pencarian merupakan proses yang paling menguras segenap kemampuan diri supaya kaya akan aktualisasi.
Selanjutnya seorang murid dipastikan menerima ilmu pengetahuan dan pelajaran yang secara holistic disampaikan oleh alam. Manusia bisa menerima ilmu pengetahuan yang disampaikan guru mereka apabila mereka menerima dengan hati yang ikhlas serta fikiran yang jernih, dalam arti siap untuk belajar. Namun untuk yang kedua mengenai pelajaran yang disampaikan oleh alam dari peristiwa yang telah terjadi dalam setiap hembus nafas kita. Kepekaan bathin diperoleh dari keadaan susah yang membuat kita untuk hidup prihatin dengan penuh kesederhanaan dan kekurangan, akan tetapi tidak menutup kemungkinan jika hati kita memang sudah benar-benar jernih layaknya seorang sufi.
 
Penutup
PENGABDIAN adalah hal yang sering kita dengar setiap hari di kehidupan kita, namun tidak semua profesi dan pelajar benar-benar ikhlas mengabdikan diri pada hal yang mereka kerjakan. Maka dalam setiap kata yang tertulis dalam kertas ini, semoga menjadi teman untuk melewati masa-masa menuju pengabdian dari proses pencarian dan penerimaan yang dapat diperoleh dari pendidikan formal, nilai-nilai yang diajarkan oleh kedua orangtua, meupun pelajaran yang disampaikan oleh alam secara alamiah.
            Sumber daya manusia kita sangatlah berpotensi untuk dapat membangun bangsa serta memangkas rumput-rumput yang kita semai dan sebelumnya kita tak tahu cara memangkasnya. Maka marilah berproses menjadi cendekiawan berkarakter dengn secara maksimal mengabdi terhadap kebaikan dalam diri kita dan kelompok. Akhirnya para cendekiawan berkarakter mampu memposisikan dirinya dimanapun ia berada dan selalu memberi energi positif baik itu sebagai sosok seorang pemimpin yang menjadi teladan, figure yang diperhatikan keberadaannya dan sangat dinanti kedatangannya, sampai pada tokoh yang sudah purna akan tetapi tetap berkiprah walaupun hanya sebagai konseptor atau penasihat yang tampil di belakang layar. Akar semangat pengabdian berawal dari pengalaman hidup dan tekad yang bulat, sense of belonging yang kental, serta kesadaran akan kewajiban. Dalam berproses menjadi cendekiawan berkarakter yang mempunyai spirit untuk mengabdi, beproseslah memberi dengan cara mengerahkan segala kemampuan transfer ilmu pengetahuan dan motivasi-motivasi kehidupan dengan menyarikan nilai-nilainya lalu meng-implementasikannya dalam setiap kesempatan mengajar setiap hari sebagai seorang pendidik. Kemudian berproses mencari dan menerima dengan segenap kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswa/murid mulai dari pengalaman hidup, pelajarannya, sampai kepada ilmu pengetahuan yang diberikan oleh pendidik.
 
 
Bacaan:
Endah, Alberthiene. (2012). Prof. Dr. Suharyadi Mendidik dengan Hati. Jakarta:  PT.Gramedia Pustaka Utama
Hardati, Puji dkk. (2015). Pendidikan Konservasi. Semarang: Magnum Pustaka Utama
Buletin Bulanan Mahasiswa UNNES Express Volume XIV No. 1/10 Maret 2016. ISSBN: 0216-5589. BP2M. hlm.12